• Home
  • P2P
  • Pertemuan Evaluasi Penentuan Diagnosis TB Pada Anak Dengan Sistem Skoring
Pertemuan Evaluasi Penentuan Diagnosis TB Pada Anak Dengan Sistem Skoring

 

Samarinda, 24 Mei 2016.

Tuberculosis (TB) merupakan penyakit infeksi dengan angka kejadian yang cukup tinggi di Indonesia. Hasil SKRT 2004 menunjukkan bahwa angka prevalensi TB secara nasionaladalah 110/100.000 penduduk. Secara regional Jawa 110/100.000 penduduk, Sumatra 160/100.000 penduduk, KTI 210/100.000 penduduk, khusus Bali dan DIY 68/100.000 penduduk.

Pada umumnya anak yang terinfeksi dengan Mycobacterium tuberculosis tidak menunjukkan penyakit tuberkulosis (TB). Satu-satunya bukti infeksi adalah uji tuberkulin (Mantoux) positif. Risiko terinfeksi dengan kuman TB meningkat bila anak tersebut tinggal serumah dengan pasien TB paru BTA positif.

Terjadinya penyakit TB bergantung pada sistem imun untuk menekan multiplikasi kuman. Kemampuan tersebut bervariasi sesuai dengan usia, yang paling rendah adalah pada usia yang sangat muda. HIV dan gangguan gizi menurunkan daya tahan tubuh; campak dan batuk rejan secara sementara dapat mengganggu sistem imun. Dalam keadaan seperti ini penyakit TB lebih mudah terjadi.

 

 Diagnosis

Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis, baik overdiagnosis maupununderdiagnosis. Pada anak, batuk bukan merupakan gejala utama.

Diagnosis pasti TB ditegakkan dengan ditemukannya M. tuberculosis pada pemeriksaan sputum atau bilasan lambung, cairan serebrospinal, cairan pleura, atau pada biopsi jaringan. Kesulitan menegakkan diagnosis pasti pada anak disebabkan oleh 2 hal, yaitu sedikitnya jumlah kuman (paucibacillary) dan sulitnya pengambilan spesimen sputum.

Pertimbangkan Tuberkulosis pada anak jika:

Anamnesis:

  • Berkurangnya berat badan 2 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas atau gagal tumbuh.
  • Demam tanpa sebab jelas, terutama jika berlanjut sampai 2 minggu.
  • Batuk kronik ≥ 3 minggu, dengan atau tanpa wheeze.
  • Riwayat kontak dengan pasien TB paru dewasa.

Pemeriksaan fisis

  • Pembesaran kelenjar limfe leher, aksila, inguinal.
  • Pembengkakan progresif atau deformitas tulang, sendi, lutut, falang.
  • Uji tuberkulin. Biasanya positif pada anak dengan TB paru, tetapi bisa negatif pada anak dengan TB milier atau yang juga menderita HIV/AIDS, gizi buruk atau baru menderita campak.
  • Pengukuran berat badan menurut umur atau lebih baik pengukuran berat menurut panjang/tinggi badan.

Untuk memudahkan penegakan diagnosis TB anak dilaksanakan dengan menggunakan sistem skoring, yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai.

Penggunaan sisten skoring dalam mendiagnosis TB pada anak tidak pernah dilakukan evaluasi bahkan banyak fasilitas pelayanan kesehatan yang mengabaikan sistem skoring pada anak karena tidak semua variabel dalam skoring dimiliki oleh fasilitas pelayanan kesehatan , seperti pemeriksaan penunjang (Ro Thorax) dan uji tuberkulin, Sehingga ada kecenderungan hasil yang overdiagnosis ataupun underdiagnosis di fasilitas pelayanan kesehatan.

Maka untuk itu pada hari Senin tepatnya tanggal 23 sampai 24 Mei 2016 diadakan pertemuan  evaluasi penentuan diagnosis TB pada anak dengan sistem skoring yang dilaksanakan di gedung Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur dengan tujuan yaitu untuk mengetahui besaran kasus TB anak di Provinsi Kalimantan Timur dengan sistem pencatatan dan pelaporan kasus TB anak, memberikan tatalaksana yang tepat dan benar pada anak yang menderita sakit TB sesuai dengan ketentuan strategi DOTS serta mengetahui kualitas diagnosis TB anak yang masih sangat bervariasi pada level kabupaten/kota

Peserta pertemuan evaluasi penentuan diagnosis TB pada anak dengan sistem skoring adalah Kepala Seksi yang membawahi program TB, pemegang program TB (wasor TB), dokter da pengelola program di Puskesmas serta di rumah sakit umum/swasta yang ada di kabupaten/kota